Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ahsanallahu' ilaika ya ustadz
Mau nanya ustadz.
Apa salah satu faedah hadits rasulullah yg berbunyi "Berpegang teguhlah kepada Sunnahku, dan sunnah sahabatku?"
Apakah benar ini termasuk faedahnya:
1. ketika ada orang berbicara bertentangan dengan hadits² Nabi dan atsar² para sahabat yg sah, maka tinggalkan pendapat² tersebut.
2. Agar kita selamat dari kesesatan.
Baarakallahu fiik ustadz
Jawaban ustadz:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Ringkasnya makna berpegang teguh dengan sunnahku dan sahabatku:
1. Jika sahabat telah bersepakat dalam sebuah perkara dalam agama (tidak ada perbedaan antara mereka) maka itu kita jadikan pegangan, pijakan dalam beragama juga walaupun orang-orang setelah mereka berselisih. Contohnya masalah : Bahwa Allah Maha Tinggi diatas segala makhluk (Istiwa') diatas Arsy-Nya maka kita wajib berpegang dengan keyakinan ini karena mereka (Shahabat) telah sepakat dalam keyakinan ini, walaupun sebagian orang berselisih bahkan mengingkarinya.
2. Jika diantara sahabat ada yg berbeda pendapat dalam sebuah sunnah Nabi maka kita teliti barangkali diantara sahabat yg berbeda pendapat ada yg belum mengetahui tentang sunnah Nabi itu sehingga ia mengingkarinya. Maka dalam hal ini kita memilih pendapat yg lebih mendekati sunnah Nabi tersebut.
3. Para sahabat berbeda pendapat dalam satu perkara namun masing-masing sedang berusaha menjalankan satu sunnah yg sama maka dalam hal ini ada kelonggaran bagi kita dalam memilihnya.
Ini ringkasannya saja
Wallahu A'lam
_____________
Dijawab oleh ustadz Abu Ahmad Rafi'i hafizhahullah
Sabtu, 30 November 2019
Jumat, 29 November 2019
ADAB SEBELUM BERTANYA KEPADA GURU
Faedah kajian
Ustadz berkata,
Sebenarnya kitab "Syarah hilyah Tholibil ilmi" ini (karya Syaikh Utsaimin -rahimahullah-) adalah tulisan dari muridnya, jadi murid beliau ini menulis apa yang di sampaikan oleh syaikh Ibnu Utsaimin ketika mensyarah kitab Hilyah Tholibil ilmi, kemudian tulisan tersebut dilihatkan kepada Syaikh ibnu Utsaimin, yang mana yang bagus, artinya tulisan itu lengkap, setelah itu di beri izin oleh Syaikh untuk di kumpulkan dan di cetak.
ADAB SEBELUM BERTANYA KEPADA GURU.
- Janganlah seorang bertanya (kepada seorang guru) kecuali dia izin terlebih dahulu, dan ini adalah suatu yang baik, apa bila bertanya maka dengan pelan, lembut, Alhamdulilah ini adalah termasuk suatu adab yang baik, ada sebagian yg lain (sebelum bertanya kepada Syaikh/guru) mengatakan "Ahsanallahu ilaika ya Syaikh." -mendo'akan gurunya- (Syaikh Ibnu Utaimin -rohimahullah-)
- jadi sebelum bertanya mereka mengatakan "Ya Syaikh Ahsanallahu ilaika." (artinya: "Ya Syaikh, semoga Allah memperbaiki urusan syaikh.") Dan lain sebagainya, boleh juga kita mengucapkan doa yg lainnya (ketika hendak bertanya) contoh seperti, "Ustadz, semoga Allah menjaga ustadz." Atau "Semoga Allah memberkahi ustadz, atau "Baarakallahu fiikum ustadz" atau "semoga Allah memberkahi umur ustadz" dsb, Dan ini adalah termasuk adab bertanya kepada guru kita. (Ustadz Arwi hafizhahullah)
______________________
Faedah kajian Kitab Syarah Hilyah Tholibil Ilmi.
Bersama ustadz Arwi Fauzi Asri -Hafizhahullah-
_______________________
♻️ Faedah ini telah mendapat izin untuk di share. Silahkan share. Semoga bermanfaat.
ISLAM dan SUNNAH
"ISLAM adalah SUNNAH, dan SUNNAH adalah ISLAM."
Faedah kajian bersama al-Ustadz Syamsidar Mahyan Su'ud -hafizhahullah-
Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam
- ungkapan ini di ambil dari perkataan dari seorang Ulama yang bernama Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Khalaf al-Barbarahari -rahimahullahu Ta'ala- dalam kitab Syarhus Sunnah.
- al-Imam al-Barbarahari adalah seorang Ulama besar di zamannya, seorang Ulama bermadzhab Hambali.
- al-Imam al-Barbarahari adalah murid dari al-Imam al-Marwazib.
- al-Imam al-Marwazib adalah murid dari al-Imam Ahmad bin Hanbal.
- al-Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari al-Imam asy-Syafi'i.
- Imam Syafi'i adalah murid dari al-Imam Malik.
- Imam Malik adalah murid dari Imam Naafi'.
- Imam Naafi' adalah murid seorang Sahabat bernama Abdullah bin 'Umar -Radhiyallahu Ta'ala 'anhu-
- dan Sahabat Abdullah bin 'Umar adalah Murid Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam- dan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- al-Imam al-Barbarahari secara keilmuan bersanad menyambung dan tersambung kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
- Kitab beliau Syarhus Sunnah menjadi rujukan oleh para Ulama, kemudian kitab beliau ini disanjung dan di puji isi dari kitab beliau ini, karena isinya sangat baik, lurus, dan sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
- Diawal-awal kitab beliau Syarhus Sunnah al-Imam al-Barbahari beliau mengatakan, dengan perkataan:
اعلموا -رحمك الله-
"Ketahuilah, (Wahai kalian kaum muslimin) -mudah-mudahan Allah merahmati kalian-
اعلموا أن الإسلام هو سنة، و السنة هي الإسلام
Bahwasanya Islam itu adalah Sunnah, dan Sunnah itu adalah Islam.
- Ustadz berkata, ini penegasan dari beliau, penegasan yang menunjukkan dan membuktikan bahwasanya Islam itu adalah Sunnah, dan Sunnah itu adalah Islam.
لا يقوم أحد هما إلا بالاخر
- (al-imam al-Barbarahari berkata) "Tidak akan pernah tegak, (tidak akan pernah diamalkan, tidak akan bisa di ketahui dan di ilmui) dari salah satu keduanya (baik itu Islam mau pun Sunnah) kecali harus dibarengkan (di sertai) dengan yang lainnya.
- (kata ustadz) Tidak akan pernah tegak Islam seseorang, kecuali harus dengan Sunnah, Tidak akan pernah benar Sunnah (seseorang mengamalkan Sunnah) kecuali dengan (tuntunan) Islam yang dia pelajari dan dia ketahui.
- Ungkapan ini adalah merupakan ungkapan kesimpulan, untuk menyatukan semua prinsip yang mendasar dalam Islam.
- Artinya kalau kita bicara Islam berarti kita bicara Sunnah, kalau kita bicara Sunnah berarti kita juga membicarakan tentang Islam.
- karena Sunnah dan Islam tidak bisa dipisahkan, apalagi kalau seandainya di bedakan antara Islam dengan Sunnah, karena dia adalah Satu badan.
لا يقوم أحد هما إلا بالاخر
- (ustadz menjelaskan kembali) Islam itu tidak bisa di amalkan kecuali kita harus belajar Sunnah. Bagaimana kita akan bisa mengamalkan Islam kalau kita tidak faham Sunnah?
Apa yang dimaksud Sunnah yang dibahas pada kajian ini maksudnya?
- Ulama ahli hadits kata mereka, "Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam baik Qoul (ucapan) Nabi, fi'li (perbuatan) Nabi, takrir (Persetujuan) Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam, termasuk juga sifat beliau, itulah makna Sunnah menurut Ulama ahli hadits.
- Disisi Ulama ahli Ushul, (menurut Ulama Ushul) Sunnah itu adalah Sumber kedua setelah Al-Qur`an dalam mengambil hukum.
- Maka dari itu kalau kita ingin mengamalkan Islam maka kita harus belajar Sunnah.
- Apa yang datang dari Rasulullah dari ucapan beliau, perbuatan beliau, dari persetujuan beliau, dan juga dari sifat beliau, maka dengan mempelajari Sunnah ini apa yang datang dari Nabi maka baru kita akan bisa mengamalkan Sunnah atau mengamalkan Islam, tanpa itu tidak bisa.
- Tanpa mempelajari Sunnah yang datang dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam maka islam seseorang tidak akan pernah benar.
- Oleh karena itu, di sebutkan oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan -Hafizhahullahu Ta'ala- beliau mengatakan,
(Ketika al-Imam al-Barbarahari mengatakan dengan ungkapan)
لا يقوم أحد هما إلا بالاخر
(Laa yaquumu ahadu humaa illaa bil akhor)
"Tidak akan pernah tegak salah satu diantara keduanya (Islam dan Sunnah) kecuali harus disertai dengan yang lain." Itu menunjukkan kata syaikh, Kalau seandainya seseorang ingin mengamalkan Islam maka dia harus belajar Sunnah, kalau dia ingin mengamalkan Sunnah maka dia harus mengkaji Islam secara dalam.
- Dan bila seseorang mengaku beragama Islam tapi dia tidak belajar Sunnah, "falaisa bi muslimin.." (maka dia bukan orang islam yang sebenarnya)
- Karena ciri khas orang islam itu mempelajari Sunnah, yang datang dari Rasulullahi Shalallahu 'alaihi wasallam.
______________
Faedah kajian:
Kamis (malam Jum'at) 3 Rabi'ul Akhir 1441 H atau bertepatan dengan Tanggal 28 November 2019 | Dimasjid Jami' al'Wustho | Tebas
√ Faedah yang telah dikoreksi dan di izinkan ustadz untuk disebarkan.
♻️ Silahkan Share, dan semoga bermanfaat.
Rabu, 27 November 2019
SINGGAHLAH
بسم الله الرحمن الرحيم
S I N G G A H L A H
Shalawat beriring salam semoga tercurah limpahkan selalu kepada Nabi kita Rasulullah shalallahu 'alaihi wa'ala alihi wasallam, kepada keluarga beliau, kepada sahabat² beliau, kepada Tabi'in, kepada Tabi'ut Tabi'in dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat kelak.
Berusahalah untuk bisa singgah di taman-taman surganya Allah Subhanahu wa Ta'ala, singgahlah walau pun anda belum berhijab, singgahlah walau pun anda berhijab namun belum berhijab syar'i, singgahlah di taman surga walau pun anda belum mengenal apa itu islam, apa itu Sunnah Nabi, singgahlah walau pun anda belum faham apa itu sholat, apa itu zakat, apa itu puasa, singgahlah walau pun anda datang bukan ingin mencatat ilmu, singgahlah di taman surganya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ini sebagaimana yang di sabdakan Nabi Muhammad shalallahu' alaihi wasallam,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
"Apabila kalian melewati salah satu taman-taman surga yang ada di dunia ini, maka singgahlah dengan senang, Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, ”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir (majelis ilmu syar'i)." (HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562)
Rasulullah mengatakan "apabila KALIAN melewati" kalian di sini siapa? #Semuanya... Semua di antara kita baik yg sudah baik agamanya atau pun yg belum baik agamanya, yg sudah sekelas ustadz atau pun bukan ustadz, orang yg dia ini sudah lama belajar agama, atau bahkah baru masuk islam, orang yg sudah berhijab syar'i atau bahkan belum berhijab sama sekali.. singgahlah di taman² surganya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga bersabda,
,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barang siapa yang memudahkan langkah kakinya untuk menuntut ilmu agama Allah, untuk berusaha memahami agama Allah, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta'ala." (HR. Muslim. no. 2699)
_______________
Faedah kajian ustadz Abu Lailah Grivaldy hafizhahullah
(faedah ini telah dikoreksi ustadz)
♻️ Silahkan share
Jumat, 22 November 2019
Beradablah dengan semua adab kepada gurumu
بسم الله الرحمن الرحيم
Faedah kajian kitab Hilyah Tholibil ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid, persyarah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah, bersama al-ustadz Arwi Fauzi Asri -hafizhahullah-
• Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan,
✓ "Beradablah dengan semua adab bersama gurumu didalam dudukmu atau ketika engkau duduk bersamanya."
• Kata Syaikh ibnu Utsaimin,
✓ "hadza shahih." (Ini benar) duduklah sebagaimana duduknya orang yang beradab, yaitu (contohnya kata beliau) jangan engkau #berselonjor¹ di depan gurumu. Karena ini termasuk adab yang buruk, jangan engkau duduk #bersender², ini juga termasuk adab yang tidak baik, terlebih di tempat menuntut ilmu. Ada pun kalau engkau di majelis biasa (bukan di tempat menuntut ilmu) maka ini lebih #ringan³, begitu juga ketika berbicara dengan guru, janganlah engkau berbicara dengan buruk seolah-olah engkau berbicara dengan teman sebayamu. Ini tidak dibenarkan kata beliau (Syaikh ibnu Utsaimin) ini bukan adab yang lurus, berbicaralah engkau dengan gurumu seperti berbicaranya seorang anak terhadap ayahnya, yang penuh penghormatan yang penuh tawadhu', tetapi (perhatikan kata Syaikh ibnu Utsaimin) "wahai para jama'ah sekalian, untuk saya (kata beliau, tawadhu'nya beliau rahimahullah) bagi saya ini tidak penting, tidak apa-apa kalian kalau berbicara dengan saya seperti berbicara dengan kerabat atau seperti berbicara dengan teman #sebaya.⁴ akan tetapi tentunya (menghormati guru itu) sesuatu yang mesti dilakukan."
√ "Sebisa mungkin kepada guru kita berbicara dengan penuh penghormatan." (Ustadz Arwi hafizhahullah)
Sedikit tambahan penjelasan dari ustadz (di sela-sela yang saye barek nomor kecil) di atas:
1. Kalau bahase kitenye ngajongkan kaki, bekajong di hadapan syaikh atau di hadapan guru.
2. Biasenye kalau dah besender ngantok, tidok, bersender dibelangang (kedinding) kepalaknye bersender juga.
3. Tidak ape-ape bersender dimajelis-majelis yang biase, tapi kalau di majelis ilmu, hendaknye dihormati.
4. Beliau rahimahullah tidak mau di hormati, masya Allah.
📌 Silahkan dibagikan, saya harap kepada Allah semoga secuil faedah ini bermanfaat bagi yang menuntut ilmu. Aamiin
Secuil faedah tulisan ini telah di murojaah oleh ustadzuna. Bagi yg ingin menyebarkan faedah tulisan ini tidak perlu meminta izin kepada saya, tetapi nasehat saya cukup jaga saja amanah ilmiyyahnya dimana pun kita menukil sebuah pernyataan, perkataan atau tulisan seseorang.
Faedah kajian kitab Hilyah Tholibil ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid, persyarah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah, bersama al-ustadz Arwi Fauzi Asri -hafizhahullah-
• Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan,
✓ "Beradablah dengan semua adab bersama gurumu didalam dudukmu atau ketika engkau duduk bersamanya."
• Kata Syaikh ibnu Utsaimin,
✓ "hadza shahih." (Ini benar) duduklah sebagaimana duduknya orang yang beradab, yaitu (contohnya kata beliau) jangan engkau #berselonjor¹ di depan gurumu. Karena ini termasuk adab yang buruk, jangan engkau duduk #bersender², ini juga termasuk adab yang tidak baik, terlebih di tempat menuntut ilmu. Ada pun kalau engkau di majelis biasa (bukan di tempat menuntut ilmu) maka ini lebih #ringan³, begitu juga ketika berbicara dengan guru, janganlah engkau berbicara dengan buruk seolah-olah engkau berbicara dengan teman sebayamu. Ini tidak dibenarkan kata beliau (Syaikh ibnu Utsaimin) ini bukan adab yang lurus, berbicaralah engkau dengan gurumu seperti berbicaranya seorang anak terhadap ayahnya, yang penuh penghormatan yang penuh tawadhu', tetapi (perhatikan kata Syaikh ibnu Utsaimin) "wahai para jama'ah sekalian, untuk saya (kata beliau, tawadhu'nya beliau rahimahullah) bagi saya ini tidak penting, tidak apa-apa kalian kalau berbicara dengan saya seperti berbicara dengan kerabat atau seperti berbicara dengan teman #sebaya.⁴ akan tetapi tentunya (menghormati guru itu) sesuatu yang mesti dilakukan."
√ "Sebisa mungkin kepada guru kita berbicara dengan penuh penghormatan." (Ustadz Arwi hafizhahullah)
Sedikit tambahan penjelasan dari ustadz (di sela-sela yang saye barek nomor kecil) di atas:
1. Kalau bahase kitenye ngajongkan kaki, bekajong di hadapan syaikh atau di hadapan guru.
2. Biasenye kalau dah besender ngantok, tidok, bersender dibelangang (kedinding) kepalaknye bersender juga.
3. Tidak ape-ape bersender dimajelis-majelis yang biase, tapi kalau di majelis ilmu, hendaknye dihormati.
4. Beliau rahimahullah tidak mau di hormati, masya Allah.
📌 Silahkan dibagikan, saya harap kepada Allah semoga secuil faedah ini bermanfaat bagi yang menuntut ilmu. Aamiin
Secuil faedah tulisan ini telah di murojaah oleh ustadzuna. Bagi yg ingin menyebarkan faedah tulisan ini tidak perlu meminta izin kepada saya, tetapi nasehat saya cukup jaga saja amanah ilmiyyahnya dimana pun kita menukil sebuah pernyataan, perkataan atau tulisan seseorang.
Minggu, 20 Oktober 2019
Faktor Anak-Anak Menjadi Nakal
بسم الله الرحمن الرحيم
Di antara salah satu faedah dalam khutbah jum'at kemarin.
Khotib mengatakan, "faktor anak-anak menjadi nakal ialah:
1. Orang tua tidak ta'at pada agama.
2. Lingkungan dan teman² yang buruk.
• Pesan khotib: Hendaklah orang tua memilihkan lingkungan baik dan teman² yang sholeh kepada anak²nya, dengan menyekolahkannya ke pondok² pesantren yang membuat anaknya taat pada agama, taat kepada orang tuanya.
3. Sikap orang tua kepada anak.
• contoh: bertengkar di depan anak. Maka sikap seperti ini harusnya tidak di tampakkan di depan anak.
4. Orang tua hanya menyuruh anaknya untuk beribadah.
• (seperti: sholat, puasa dll) sementara orang tuanya tidak melakukannya. /Sebagian contoh: Maghrib anak di suruh sholat sedangkan orang tua mandi pun belum.
5. Pengaruh media yang mana anak bebas menikmati keburukan dalam fasilitas tersebut.
• contoh: Dari televisi atau handphone.
√ Khotib juga menyampaikan pesan kepada para jama'ah shalat jum'at dengan membacakan ayat al-Qur'anul karim:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." (Qs. At-Tahrim ayat 6) ini adalah ayat perintah dari Allah yang WAJIB untuk kita laksanakan kata khotib.
[Kesimpulan: mulailah dari diri kita untuk taat kepada Allah]
Wallahu a'lam.
Di muroja'ah oleh: Ustadz Yang tidak bisa saya sebutkan namanya -hafizhahullahu Ta'ala-
Jum'at, 18 Oktober 2019, Masjid Baiturrahman Jl. Amanah - Tebas.
Penulis: Hendra @ibnibahrayni
Semoga bermanfaat.
Di antara salah satu faedah dalam khutbah jum'at kemarin.
Khotib mengatakan, "faktor anak-anak menjadi nakal ialah:
1. Orang tua tidak ta'at pada agama.
2. Lingkungan dan teman² yang buruk.
• Pesan khotib: Hendaklah orang tua memilihkan lingkungan baik dan teman² yang sholeh kepada anak²nya, dengan menyekolahkannya ke pondok² pesantren yang membuat anaknya taat pada agama, taat kepada orang tuanya.
3. Sikap orang tua kepada anak.
• contoh: bertengkar di depan anak. Maka sikap seperti ini harusnya tidak di tampakkan di depan anak.
4. Orang tua hanya menyuruh anaknya untuk beribadah.
• (seperti: sholat, puasa dll) sementara orang tuanya tidak melakukannya. /Sebagian contoh: Maghrib anak di suruh sholat sedangkan orang tua mandi pun belum.
5. Pengaruh media yang mana anak bebas menikmati keburukan dalam fasilitas tersebut.
• contoh: Dari televisi atau handphone.
√ Khotib juga menyampaikan pesan kepada para jama'ah shalat jum'at dengan membacakan ayat al-Qur'anul karim:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." (Qs. At-Tahrim ayat 6) ini adalah ayat perintah dari Allah yang WAJIB untuk kita laksanakan kata khotib.
[Kesimpulan: mulailah dari diri kita untuk taat kepada Allah]
Wallahu a'lam.
Di muroja'ah oleh: Ustadz Yang tidak bisa saya sebutkan namanya -hafizhahullahu Ta'ala-
Jum'at, 18 Oktober 2019, Masjid Baiturrahman Jl. Amanah - Tebas.
Penulis: Hendra @ibnibahrayni
Semoga bermanfaat.
Selasa, 01 Oktober 2019
Tulus Dalam Beragama || by. @ibnibahrayni
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”.Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
• Lihat: https://muslim.or.id/262-agama-adalah-nasihat-1.html
Agama adalah Nasehat, nasehat dalam bahasa arab disini bermakna ketulusan. (Ustadz. Dzulqarnain M. Sunusi)
Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya. (Lihat: https://almanhaj.or.id/1832-pengertian-nasehat.html)
Jadi didalam menasehati (berdakwah) itu bukan hanya sekedar menurut kita baik saja, nasehat itu harus di lakukan tulus/ikhlas tak ada kotoran² syirik seperti ingin di anggap baik karena manusia, ingin dipuji manusia semata, karena tanpa ketulusan karena Allah nasehat tidaklah berarti sama sekali. Dalam menasehati haruslah jujur karena Allah, menjaga amanah ilmu, menerapkan metode/cara² yang telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabat, tidak menghendaki kebaikan kecuali memang ikhlas semata mengharapkan balasan pahala dari Allah Ta'ala, dengan cara² yang juga di ridhoi Allah Ta'ala yaitu dengan cara² yang hikmah.
Banyak orang menasehati ingin agar tersebarnya kebaikan tetapi dengan cara² yang bertentangan dengan syariat Allah, contoh: seseorang berdakwah dengan musik. Wallahi itu bukanlah cara yang baik dan benar, jika memang perbuatan itu baik sudah pasti dahulu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallamdan para Sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya.
Banyak orang mengabaikan bahkan tidak mengetahui di dalam suatu majelis ada cara² yang bertentangan dengan syariat, seperti seorang khotib naik mimbar dengan memprovokasi ummat untuk memberontak (baca: demo) kepada pemimpin negara, dilain majelis dia membuat majelis seperti panggung sandiwara berhias dengan retorika indah namun melakukan berbagai penyimpangan dalam dakwah tidak pernah menyampaikan kalam ulama dia hanya menyampaikan apa yg ada di benaknya, juga biasanya seorang da'i mengadakan tausiyah dimana dalam tausiyah tersebut bukanlah firman Allah dan sabda rasulullah yang dibahas melainkan bercerita tentang Cerita² tahayul dan khurafat/mimpi, dan yang lain juga ada da'i² yang hanya banyak mengajak jama'ahnya tertawa tidak ada di sebutkan Qolallah wa Qola Rasulullah Wa qola sahabah, majelis-majelis seperti ini bukanlah majelis ilmu yang berkah melainkan majelis yang kosong dari faedah.
Allah berfirman yg artinya:
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)
Dalam isi ayat di atas jelas Allah katakan, bahwa siapa saja yang ingin dicintai Allah, di ridhoi Allah maka kita harus mengikuti semua tuntunan Rasulullah tanpa terkecuali, baik dalam tata cara ibadah, cara berdakwah, cara menasehati pemimpin atau menasehati manusia secara umum (bermuamalah), menerapkan adab dan akhlak, apa lagi dalam masalah aqidah.
Maka seharusnya kita pelajari, ayo mencari ilmu baru beramal dengannya.
Wallahu a'lam.
• Lihat: https://muslim.or.id/262-agama-adalah-nasihat-1.html
Agama adalah Nasehat, nasehat dalam bahasa arab disini bermakna ketulusan. (Ustadz. Dzulqarnain M. Sunusi)
Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya. (Lihat: https://almanhaj.or.id/1832-pengertian-nasehat.html)
Jadi didalam menasehati (berdakwah) itu bukan hanya sekedar menurut kita baik saja, nasehat itu harus di lakukan tulus/ikhlas tak ada kotoran² syirik seperti ingin di anggap baik karena manusia, ingin dipuji manusia semata, karena tanpa ketulusan karena Allah nasehat tidaklah berarti sama sekali. Dalam menasehati haruslah jujur karena Allah, menjaga amanah ilmu, menerapkan metode/cara² yang telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabat, tidak menghendaki kebaikan kecuali memang ikhlas semata mengharapkan balasan pahala dari Allah Ta'ala, dengan cara² yang juga di ridhoi Allah Ta'ala yaitu dengan cara² yang hikmah.
Banyak orang menasehati ingin agar tersebarnya kebaikan tetapi dengan cara² yang bertentangan dengan syariat Allah, contoh: seseorang berdakwah dengan musik. Wallahi itu bukanlah cara yang baik dan benar, jika memang perbuatan itu baik sudah pasti dahulu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallamdan para Sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya.
Banyak orang mengabaikan bahkan tidak mengetahui di dalam suatu majelis ada cara² yang bertentangan dengan syariat, seperti seorang khotib naik mimbar dengan memprovokasi ummat untuk memberontak (baca: demo) kepada pemimpin negara, dilain majelis dia membuat majelis seperti panggung sandiwara berhias dengan retorika indah namun melakukan berbagai penyimpangan dalam dakwah tidak pernah menyampaikan kalam ulama dia hanya menyampaikan apa yg ada di benaknya, juga biasanya seorang da'i mengadakan tausiyah dimana dalam tausiyah tersebut bukanlah firman Allah dan sabda rasulullah yang dibahas melainkan bercerita tentang Cerita² tahayul dan khurafat/mimpi, dan yang lain juga ada da'i² yang hanya banyak mengajak jama'ahnya tertawa tidak ada di sebutkan Qolallah wa Qola Rasulullah Wa qola sahabah, majelis-majelis seperti ini bukanlah majelis ilmu yang berkah melainkan majelis yang kosong dari faedah.
Allah berfirman yg artinya:
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)
Dalam isi ayat di atas jelas Allah katakan, bahwa siapa saja yang ingin dicintai Allah, di ridhoi Allah maka kita harus mengikuti semua tuntunan Rasulullah tanpa terkecuali, baik dalam tata cara ibadah, cara berdakwah, cara menasehati pemimpin atau menasehati manusia secara umum (bermuamalah), menerapkan adab dan akhlak, apa lagi dalam masalah aqidah.
Maka seharusnya kita pelajari, ayo mencari ilmu baru beramal dengannya.
Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
