بسم الله الرحمن الرحيم
Di antara salah satu faedah dalam khutbah jum'at kemarin.
Khotib mengatakan, "faktor anak-anak menjadi nakal ialah:
1. Orang tua tidak ta'at pada agama.
2. Lingkungan dan teman² yang buruk.
• Pesan khotib: Hendaklah orang tua memilihkan lingkungan baik dan teman² yang sholeh kepada anak²nya, dengan menyekolahkannya ke pondok² pesantren yang membuat anaknya taat pada agama, taat kepada orang tuanya.
3. Sikap orang tua kepada anak.
• contoh: bertengkar di depan anak. Maka sikap seperti ini harusnya tidak di tampakkan di depan anak.
4. Orang tua hanya menyuruh anaknya untuk beribadah.
• (seperti: sholat, puasa dll) sementara orang tuanya tidak melakukannya. /Sebagian contoh: Maghrib anak di suruh sholat sedangkan orang tua mandi pun belum.
5. Pengaruh media yang mana anak bebas menikmati keburukan dalam fasilitas tersebut.
• contoh: Dari televisi atau handphone.
√ Khotib juga menyampaikan pesan kepada para jama'ah shalat jum'at dengan membacakan ayat al-Qur'anul karim:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." (Qs. At-Tahrim ayat 6) ini adalah ayat perintah dari Allah yang WAJIB untuk kita laksanakan kata khotib.
[Kesimpulan: mulailah dari diri kita untuk taat kepada Allah]
Wallahu a'lam.
Di muroja'ah oleh: Ustadz Yang tidak bisa saya sebutkan namanya -hafizhahullahu Ta'ala-
Jum'at, 18 Oktober 2019, Masjid Baiturrahman Jl. Amanah - Tebas.
Penulis: Hendra @ibnibahrayni
Semoga bermanfaat.
Minggu, 20 Oktober 2019
Selasa, 01 Oktober 2019
Tulus Dalam Beragama || by. @ibnibahrayni
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”.Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
• Lihat: https://muslim.or.id/262-agama-adalah-nasihat-1.html
Agama adalah Nasehat, nasehat dalam bahasa arab disini bermakna ketulusan. (Ustadz. Dzulqarnain M. Sunusi)
Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya. (Lihat: https://almanhaj.or.id/1832-pengertian-nasehat.html)
Jadi didalam menasehati (berdakwah) itu bukan hanya sekedar menurut kita baik saja, nasehat itu harus di lakukan tulus/ikhlas tak ada kotoran² syirik seperti ingin di anggap baik karena manusia, ingin dipuji manusia semata, karena tanpa ketulusan karena Allah nasehat tidaklah berarti sama sekali. Dalam menasehati haruslah jujur karena Allah, menjaga amanah ilmu, menerapkan metode/cara² yang telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabat, tidak menghendaki kebaikan kecuali memang ikhlas semata mengharapkan balasan pahala dari Allah Ta'ala, dengan cara² yang juga di ridhoi Allah Ta'ala yaitu dengan cara² yang hikmah.
Banyak orang menasehati ingin agar tersebarnya kebaikan tetapi dengan cara² yang bertentangan dengan syariat Allah, contoh: seseorang berdakwah dengan musik. Wallahi itu bukanlah cara yang baik dan benar, jika memang perbuatan itu baik sudah pasti dahulu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallamdan para Sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya.
Banyak orang mengabaikan bahkan tidak mengetahui di dalam suatu majelis ada cara² yang bertentangan dengan syariat, seperti seorang khotib naik mimbar dengan memprovokasi ummat untuk memberontak (baca: demo) kepada pemimpin negara, dilain majelis dia membuat majelis seperti panggung sandiwara berhias dengan retorika indah namun melakukan berbagai penyimpangan dalam dakwah tidak pernah menyampaikan kalam ulama dia hanya menyampaikan apa yg ada di benaknya, juga biasanya seorang da'i mengadakan tausiyah dimana dalam tausiyah tersebut bukanlah firman Allah dan sabda rasulullah yang dibahas melainkan bercerita tentang Cerita² tahayul dan khurafat/mimpi, dan yang lain juga ada da'i² yang hanya banyak mengajak jama'ahnya tertawa tidak ada di sebutkan Qolallah wa Qola Rasulullah Wa qola sahabah, majelis-majelis seperti ini bukanlah majelis ilmu yang berkah melainkan majelis yang kosong dari faedah.
Allah berfirman yg artinya:
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)
Dalam isi ayat di atas jelas Allah katakan, bahwa siapa saja yang ingin dicintai Allah, di ridhoi Allah maka kita harus mengikuti semua tuntunan Rasulullah tanpa terkecuali, baik dalam tata cara ibadah, cara berdakwah, cara menasehati pemimpin atau menasehati manusia secara umum (bermuamalah), menerapkan adab dan akhlak, apa lagi dalam masalah aqidah.
Maka seharusnya kita pelajari, ayo mencari ilmu baru beramal dengannya.
Wallahu a'lam.
• Lihat: https://muslim.or.id/262-agama-adalah-nasihat-1.html
Agama adalah Nasehat, nasehat dalam bahasa arab disini bermakna ketulusan. (Ustadz. Dzulqarnain M. Sunusi)
Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya. (Lihat: https://almanhaj.or.id/1832-pengertian-nasehat.html)
Jadi didalam menasehati (berdakwah) itu bukan hanya sekedar menurut kita baik saja, nasehat itu harus di lakukan tulus/ikhlas tak ada kotoran² syirik seperti ingin di anggap baik karena manusia, ingin dipuji manusia semata, karena tanpa ketulusan karena Allah nasehat tidaklah berarti sama sekali. Dalam menasehati haruslah jujur karena Allah, menjaga amanah ilmu, menerapkan metode/cara² yang telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabat, tidak menghendaki kebaikan kecuali memang ikhlas semata mengharapkan balasan pahala dari Allah Ta'ala, dengan cara² yang juga di ridhoi Allah Ta'ala yaitu dengan cara² yang hikmah.
Banyak orang menasehati ingin agar tersebarnya kebaikan tetapi dengan cara² yang bertentangan dengan syariat Allah, contoh: seseorang berdakwah dengan musik. Wallahi itu bukanlah cara yang baik dan benar, jika memang perbuatan itu baik sudah pasti dahulu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallamdan para Sahabat telah mendahului kita dalam melakukannya.
Banyak orang mengabaikan bahkan tidak mengetahui di dalam suatu majelis ada cara² yang bertentangan dengan syariat, seperti seorang khotib naik mimbar dengan memprovokasi ummat untuk memberontak (baca: demo) kepada pemimpin negara, dilain majelis dia membuat majelis seperti panggung sandiwara berhias dengan retorika indah namun melakukan berbagai penyimpangan dalam dakwah tidak pernah menyampaikan kalam ulama dia hanya menyampaikan apa yg ada di benaknya, juga biasanya seorang da'i mengadakan tausiyah dimana dalam tausiyah tersebut bukanlah firman Allah dan sabda rasulullah yang dibahas melainkan bercerita tentang Cerita² tahayul dan khurafat/mimpi, dan yang lain juga ada da'i² yang hanya banyak mengajak jama'ahnya tertawa tidak ada di sebutkan Qolallah wa Qola Rasulullah Wa qola sahabah, majelis-majelis seperti ini bukanlah majelis ilmu yang berkah melainkan majelis yang kosong dari faedah.
Allah berfirman yg artinya:
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)
Dalam isi ayat di atas jelas Allah katakan, bahwa siapa saja yang ingin dicintai Allah, di ridhoi Allah maka kita harus mengikuti semua tuntunan Rasulullah tanpa terkecuali, baik dalam tata cara ibadah, cara berdakwah, cara menasehati pemimpin atau menasehati manusia secara umum (bermuamalah), menerapkan adab dan akhlak, apa lagi dalam masalah aqidah.
Maka seharusnya kita pelajari, ayo mencari ilmu baru beramal dengannya.
Wallahu a'lam.
Sabtu, 28 September 2019
Pengunduh Video Facebook Online Gratis + konversi
Pengunduh video Facebook online gratis
Getfvid adalah salah satu alat terbaik yang tersedia online untuk mengkonversi video dari Facebook ke file mp4 (video) atau mp3 (audio) dan mengunduhnya secara gratis - layanan ini berfungsi untuk komputer, tablet, dan perangkat seluler.
Yang perlu Anda lakukan adalah memasukkan URL di kotak teks yang disediakan dan menggunakan tombol berlabel "Unduh" untuk mengunduh video dalam format yang tersedia.
Penggunaan situs web kami gratis dan tidak memerlukan perangkat lunak atau pendaftaran apa pun.
Selamat bersenang-senang dan nikmati penggunaan situs web kami.
Baca selengkapnya di: https://www.getfvid.com
Getfvid adalah salah satu alat terbaik yang tersedia online untuk mengkonversi video dari Facebook ke file mp4 (video) atau mp3 (audio) dan mengunduhnya secara gratis - layanan ini berfungsi untuk komputer, tablet, dan perangkat seluler.
Yang perlu Anda lakukan adalah memasukkan URL di kotak teks yang disediakan dan menggunakan tombol berlabel "Unduh" untuk mengunduh video dalam format yang tersedia.
Penggunaan situs web kami gratis dan tidak memerlukan perangkat lunak atau pendaftaran apa pun.
Selamat bersenang-senang dan nikmati penggunaan situs web kami.
Baca selengkapnya di: https://www.getfvid.com
Jumat, 20 September 2019
Hati mereka sangat mulia namun kita tak pernah atau kurang menghargainya.
Bismilláhirrahmánirrahím
Hati mereka sangat mulia namun kita tak pernah menghargainya.
Mereka (para usátidzah atau guru-guru agama kita) adalah orang yang Allah karuniakan kepada kita, janganlah kita sia-siakan mereka, selagi mereka ada di dekat kita selagi mereka belum pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, hadirilah dengan ikhlas majelis ilmunya, ambillah ilmu mereka, hargailah mereka, maka seharusnya kita juga berterima kasih kepada mereka dan mendoakan mereka. Ketahuilah mereka tidak mengharapkan gaji sepeser pun dari rezeki kita, andaikan mereka orang yang kaya raya niscaya merekalah yang akan berusaha menyodorkan makanan bagi rohani dan jasmani kita. Hati mereka mulia namun kita yang hina tak pernah menyadarinya.
Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ilmu melalui orang-orang mulia seperti mereka, apakah kita tidak mau mengambilnya dan mengabaikannya begitu saja dengan berleha-leha setelah kita mengetahui jalan kebenaran?
Kita membaca ayat "Shirothol ladzi na-an'amta 'alaihim, ghoiril maghdhubi 'alaihim, waladh-dholliin." namun kita juga yang berpaling berarti kita masuk ke dalam ayat ini. Na'udzubillahi min dzalik.
Hayatilah ayat tersebut dengan baik, niscaya kita menyadari kesesatan itu tidak hanya bagi orang yahudi dan nashrani tetapi selelah kita meminta di tunjukkan jalan yang lurus ternyata kita malah terjebak dalam salah satu sifat yahudi atau nashrani. Na'udzubillahi mindzalik.
Kembalilah ke majelis ilmu wahai sahabatku. Guru dan sahabatmu merindukanmu.
_______________
Tebas, 21 Muharram 1441 H
Jum'at 20 September 2019 M
📷 Penulis alfakir: Hendra ibni Bahrayni
Rabu, 04 September 2019
Beberapa Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid
بسم الله الرحمن الرحيم
🎙1.Dimudahkan jalannya menuju surga.
Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
🎙2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat.
Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).
Makna dari وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ“mereka akan dilingkupi para malaikat“, dijelaskan oleh Al Mula Ali Al Qari:
مَعْنَاهُ الْمَعُونَةُ وَتَيْسِيرُ الْمُؤْنَةِ بِالسَّعْيِ فِي طَلَبِهِ
“Maknanya mereka akan ditolong dan dimudahkan dalam upaya mereka menuntut ilmu” (Mirqatul Mafatih, 1/296).
🎙3. Merupakan jihad fi sabilillah.
Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).
🎙4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah.
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ
“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).
Tasybik adalah menjalin jari-jemari.
🎙5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin.
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
“Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:
والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ
“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”
Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.
Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada untuk terus menuntut ilmu syar’i, terutama di zaman penuh syubuhat dan fitnah ini.
Semoga Allah memberi taufik.
***
• Faidah dari kajian Fiqhu Al Mashalih wal Mafasid, oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili
Penulis: Ustadz Yulian Purnama حفظه الله
copas dari Artikel: Muslim.Or.Id
https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html
Selasa, 03 September 2019
Jalan Selamat Dunia Dan Akhirat Adalah Mengikuti Cara Beragamanya Para Sahabat
بسم الله الرحمن الرحيم
Di zaman sekarang musuh-musuh islam dan orang-orang munafik Islam dari dalam (ahlul bid'ah Syi'ah, liberal dan pengikut2 mereka) semakin gencar dan semakin membahayakan bagi anak mau pun orang tua, mereka menyusupkan aqidah² batil dan kufur setiap saat tanpa peduli siang atau malam, dimana saja mereka berada, di kota di desa, lewat tivi bahkan tidak diragukan lagi lewat gadget (internet yg di kosumsi seluruh manusia tua mau pun yg muda) jika kita tidak membentengi diri dengan ilmu agama (menuntut ilmu) maka pasti kita akan terbawa arus kemoderenan dan berbagai penyesatan bahkan sampai ke level kemurtadan, na'udzubillahi min dzalik.
Pernahkan kita merenungi bagaimana busuk dan liciknya permusuhan orang-orang kuffar kepada islam semenjak para Nabi dan Rasul di utus? mereka tak-akan pernah diam dan membiarkan Islam bangkit setelah petunjuk dari Alah itu sampai di negeri kita,
Allah Ta'ala berfirman,
ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم قل إن هدى الله هو الهدى ولئن اتبعت أهواءهم بعد الذي جاءك من العلم ما لك من الله من ولي ولا نصير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dengan kamu sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah sepenuhnya petunjuk” yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah: 120)
maka dari itu janganlah kita meninggalkan yang namanya belajar ilmu syar'i, karena dengan ilmu kita jadi bisa mengetahui apa yang jelas benar itu sudah jelas, dan yang jelas salah itu jelas salah, dalam agama kita tidak ada yang namanya tidak jelas, semua sudah Allah jelaskan melalui lisan NabiNya (hadits) dan apa yang telah di praktekkan oleh para sahabat radhiyallahu'anhum ajma'in. maka kita hanya mengikuti mereka dengan baik dan benar. inilah amalan orang² yang ingin selamat dunia dan akhirat.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ
“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Allah berfirman di dalam Al-Quran,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” [An-Nisaa`:80].
kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelaskan Al-Quran dan merinci yang global darinya, maka hakikat keduanya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.
Allahu a'lam.
Penulis Al-Fakir: Hendra @ibnibahrayni
Selasa, 03 September 2019 - Tebas (Kalimantan Barat)
Sabtu, 31 Agustus 2019
SIAPA YANG MEMBENCI KEBAIKAN MAKA DIA AKAN TERJATUH PADA KEBURUKAN
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
مَنْ رَغِبَ عَنْ إِنْفَاقِ مَالِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ابْتُلِيَ بِإِنْفَاقِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ وَهُوَ رَاغِمٌ.
"Siapa yang tidak suka membelanjakan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia akan ditimpa dengan membelanjakannya untuk selain Allah dalam keadaan dia tidak menyukainya.
وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ التَّعَبِ لِلَّهِ ابْتُلِيَ بِالتَّعَبِ فِي خِدْمَةِ الْخَلْقِ وَلَا بُدَّ.
Demikian juga siapa yang tidak suka keletihan untuk Allah, maka dia akan ditimpa dengan keletihan untuk melayani makhluk, mau tidak mau.
وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ الْهَدْيِ بِالْوَحْيِ، ابْتُلِيَ بِكُنَاسَةِ الْآرَاءِ وَزِبَالَةِ الْأَذْهَانِ، وَوَسَخِ الْأَفْكَارِ.
Demikian juga siapa yang tidak suka dengan petunjuk yang berasal dari wahyu, maka dia akan ditimpa dengan pendapat yang kotor, sampah pikiran, dan limbah pemikiran.
فَلْيَتَأَمَّلْ مَنْ يُرِيدُ نُصْحَ نَفْسِهِ وَسَعَادَتَهَا وَفَلَاحَهَا هَذَا الْمَوْضِعَ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ.
Maka siapa saja yang menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungan untuk dirinya, hendaklah dia memperhatikan hal ini pada dirinya dan pada orang lain."
[Madarijus Salikin, jilid 1 hlm. 184]
📚 Sumber || https://telegram.me/fawaz_almadkali
Langganan:
Postingan (Atom)





